Jembrana – Suasana Taman Sangkur, Kabupaten Jembrana, Bali, Minggu (9/8/2026), berlangsung semarak dengan digelarnya Lomba Suara Burung Derkuku. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Negara ke-131 sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lomba burung derkuku ini difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jembrana selaku leading sector, bekerja sama dengan komunitas dan panitia penyelenggara.
Ketua Panitia Lomba Burung Derkuku, I Putu Maruti, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan hobi serta keberadaan burung derkuku, khususnya jenis lokal Jembrana.
“Lomba derkuku ini dalam rangka memperingati dan merayakan HUT Kota Negara yang ke-131, sekaligus memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81,” ujar I Putu Maruti.
Ia menjelaskan, dalam lomba kali ini terdapat dua kategori utama, yakni dewasa bebas dan lokal asli.
Kategori dewasa bebas dapat diikuti burung hasil crossing atau persilangan antara burung ternakan dengan burung lokal. Sementara kategori lokal asli dikhususkan bagi burung derkuku yang benar-benar merupakan burung lokal asli.
“Kalau kategori lokal asli, burungnya memang harus burung lokal asli. Sedangkan dewasa bebas bisa diikuti burung hasil crossing antara burung ternakan dan burung lokal,” jelasnya.
Menurut Maruti, penilaian lomba lebih menitikberatkan pada kualitas suara burung. Para juri menilai irama suara yang terdiri dari bagian depan, tengah dan ujung, termasuk adanya spasi atau jeda dalam alunan suara.
“Penilaian juri dari suara, terutama irama burung, mulai dari depan, tengah sampai ujung. Ada spasi atau jedanya, dan itu yang menjadi salah satu penilaian,” katanya.
Ia menambahkan, kualitas suara derkuku memiliki beberapa tingkatan. Burung yang rajin berbunyi atau terus berbunyi disebut gacor. Namun, penilaian tidak hanya berdasarkan seberapa sering burung berbunyi, melainkan juga kualitas irama, kekuatan suara, kemerduan dan kelengkapan alunan suaranya.
“Burung yang bagus itu suaranya bagus, tetapi belum tentu masuk kategori sangat bagus. Burung yang sangat bagus memiliki suara depan, tengah dan ujung yang jelas. Sedangkan burung istimewa adalah burung yang suaranya keras, merdu dan memiliki irama yang bagus,” ungkapnya.
Dari sisi peserta, lomba tersebut diikuti puluhan penghobi derkuku. Untuk peserta dari Jembrana sendiri tercatat sekitar 50 orang, dengan jumlah burung yang dilombakan mencapai sekitar 70 ekor. Selain peserta lokal, terdapat pula peserta dari luar daerah, termasuk dari Denpasar.
Panitia juga menyediakan penghargaan dan uang pembinaan bagi para pemenang. Juara pertama hingga peringkat 10 mendapatkan penghargaan serta uang pembinaan dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan peringkat.
Maruti berharap kegiatan lomba derkuku ke depan dapat terus mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jembrana sehingga bisa dilaksanakan secara berkelanjutan dan semakin berkembang.
“Kami berharap ke depan kegiatan lomba derkuku ini tetap mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jembrana. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memfasilitasi kegiatan ini, baik dalam bentuk konsumsi, tenaga maupun dukungan lainnya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, SE, MM, didampingi Kabid pengembangan Destinasi, Kelembagaan Dan SDM, I Gede Darmika, SE, M.Si, mengatakan lomba derkuku merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan dalam memeriahkan HUT Kota Negara ke-131.
“Hari ini merupakan salah satu rangkaian HUT Kota Negara yang ke-131. Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak awal bulan, salah satunya lomba burung berkicau, kemudian hari ini, tanggal 9 Agustus, ada lomba burung derkuku,” kata Sapta Negara.
Menurutnya, Disparbud Jembrana mengampu berbagai kegiatan dalam rangkaian HUT Kota Negara tahun ini. Selain kegiatan terkait komunitas burung, sebelumnya juga telah digelar berbagai kegiatan olahraga dan hiburan, termasuk lomba surfing.
“Rangkaian kegiatan Kota Negara tahun ini sangat semarak. Dari awal sampai akhir Agustus ada berbagai kegiatan. Walaupun puncak rangkaiannya berlangsung pada 14 sampai 23 Agustus, kegiatan dalam rangka HUT Kota Negara tetap terasa sepanjang bulan,” ujarnya.
Sapta Negara menyebut, sejumlah agenda besar juga telah dipersiapkan untuk memeriahkan puncak perayaan HUT Kota Negara ke-131. Pada 23 Agustus mendatang, masyarakat akan disuguhkan berbagai kegiatan, mulai dari mekepung pada siang hari, parade budaya, hingga pertunjukan Calonarang pada malam harinya.
“Kepada masyarakat kami mengajak untuk bersama-sama merayakan dan memeriahkan HUT Kota Negara ke-131. Harapannya, kegiatan ini juga semakin memperkenalkan Jembrana kepada masyarakat dari kabupaten lain maupun masyarakat di seluruh Nusantara,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi antusiasme komunitas derkuku yang turut menghadirkan peserta dari luar Kabupaten Jembrana.
Menurutnya, kehadiran peserta dari luar daerah menunjukkan bahwa kegiatan yang digelar di Jembrana memiliki daya tarik bagi komunitas di luar daerah. Bahkan, pada lomba berikutnya yang akan digelar pada 16 Agustus, pihaknya berharap peserta yang datang dapat lebih banyak, termasuk dari Pulau Jawa.
Namun, untuk mendatangkan peserta dari luar pulau, khususnya yang membawa burung, terdapat sejumlah persyaratan administrasi dan legalitas yang harus dipenuhi.
“Membawa burung dari luar pulau tentunya tidak gampang. Mereka harus menyeberang dan membutuhkan surat-surat serta persyaratan tertentu. Panitia sudah berupaya seoptimal mungkin untuk memfasilitasi hal tersebut,” jelasnya.
Sapta Negara menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah dengan komunitas menjadi salah satu kunci dalam menyukseskan seluruh rangkaian HUT Kota Negara ke-131.
“Inilah upaya kita di pemerintahan bekerja sama dengan komunitas, sehingga kemeriahan HUT Kota Negara ke-131 ini bisa kita rasakan bersama,” pungkasnya. (!)






