Peringatan Tumpek Klurut Di Jembrana Dipusatkan Di Pura Jagatnatha

banner 120x600

Memperingati Hari Tumpek Klurut yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Klurut, Pemerintah Kabupaten Jembrana melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Jagatnatha Jembrana, Sabtu (18/2).

Persembahyangan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna bersama ibu, Sekda Kabupaten Jembrana I Made Budiasa, para Asisten, Staf Ahli Bupati, para pimpinan OPD, Kasdim 1617/Jembrana, Majelis Madya, Majelis Alitan, PHDI dan siswa-siswa SMA.

Perayaan Hari Tumpek Klurut dengan upacara Jana Kerthi sebagai pelaksanaan tata-titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam Bali era Baru, secara khusus Tumpek Klurut ini dirayakan dalam rangka upacara penyucian Sarwa Tetangguran (gamelan/alat musik) untuk memuliakan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara dimana menumbuhkan, mengembangkan dan memperdayakan rasa kasih sayang kita terhadap seni, adat dan budaya.

Wabup Ipat mengajak untuk memaknai hari Tumpek Klurut sebagai hari kasih sayang utamanya bagi masyarakat umat Hindu dresta Bali.

“Klurut atau Lulut dimaknai sebagai kasih sayang, tresna asih atau cinta kasih. Karena itu kita wajib untuk meningkatkan dan membangkitkan kesadaran untuk saling mengasihi, saling menyayangi serta memupuk rasa kebersamaan dan persaudaraan,” ucapnya.

Lanjut, Wabup Ipat mengatakan pada Tumpek Klurut yang dilaksanakan melalui upacara penyucian Sarwa Tetangguran atau gamelan dan alat-alat musik, di kabupaten Jembrana telah secara maksimal berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas atraksi seni budaya dengan instrumen gamelan.

Ia mengatakan, secara Skala rangkaian Tumpek Klurut ini telah dilaksanakan pergelaran seni yaitu Festival Tari Jembrana yang digelar panggung terbuka Pura Jagatnatha yang merupakan kolaborasi antara Pemerintah Daerah dengan sanggar tari yang ada di Jembrana.

“Dalam hal ini dikordinir oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jembrana bekerjasama denfan Sanggar Pradnya Swari yang telah menampilkan tari dari ratusan anak-anak yang diantaranya penyandang disabilitas. Saya sangat mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada Sanggar Pradnya Swari karena telah dengan tulus ikhlas mengabdi kepada anak difabel, sehingga bisa tampil selayaknya anak-anak pada umumnya,” ujar Wabup Ipat.

Wakil Bupati asal Kelurahan Tegalcangkring ini mengatakan adanya suara gong di setiap desa adat adalah indikasi krama desa adat senantiasa hidup dalam keadaan rukun, damai dan harmonis. Oleh karena itu, Ia berharap agar pelestarian seni dan budaya terus dilakukan terutama bagi generasi muda.

“Saya berharap kepada seluruh masyarakat Jembrana, jangan pernah lalai mengajar dan melatih anak-anak kita untuk megambel dan menari,” ungkapnya.

Penulis: NgurahEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *