Jembrana – Taman Pecangakan, tepat di depan Kantor Bupati Jembrana, menjadi pusat pertemuan komunitas seni, musisi, pelaku usaha, dan generasi muda melalui gelaran Jembrana Creative Festival (JCF) 2026. Festival yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026 ini, menawarkan beragam aktivitas kreatif yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
Kegiatan yang digagas Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jembrana tersebut dibuka mulai pukul 12.00 WITA setiap harinya. Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari pertunjukan musik, seni budaya, kuliner, lokakarya, hingga pameran produk kreatif lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana Anak Agung Komang Sapta Negara, S.E., M.M., didampingi Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Ni Komang Ayu Tri Ardanawati, SST.Par., M.M., menjelaskan bahwa JCF tahun ini mengangkat tema “Reimagine the Playground – Where Creativity Meets Play”.
Menurutnya, tema tersebut mengandung pesan bahwa festival bukan sekadar tempat menikmati pertunjukan, melainkan ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam berbagai aktivitas kreatif.
“JCF 2026 hadir dalam momentum Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober dan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Kami ingin mempertemukan semangat generasi muda, komunitas, kreativitas, serta potensi ekonomi kreatif Jembrana dalam satu wadah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Pemkab Jembrana melalui Disparbud bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) juga membuka kesempatan bagi para kreator lokal untuk memperoleh fasilitasi terkait pengembangan dan perlindungan hasil karya mereka.
Penyelenggaraan festival tahun ini lebih menekankan keterlibatan komunitas dalam membangun ruang kreatif bersama.
Taman Pecangakan dipilih bukan tanpa alasan. Ruang publik yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas masyarakat tersebut ingin dihidupkan sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan, karya, dan kolaborasi.
“Kami ingin anak-anak muda Jembrana memiliki ruang untuk bereksperimen, menemukan potensi, dan bekerja sama. Dalam festival ini, pengunjung tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas di dalamnya,” jelas Sapta Negara, Jumat (31/10/2026).
Sapta Negara menyebutkan, salah satu program penting tahun ini adalah layanan fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Melalui Booth HKI/IP Corner di kawasan Creative Market & Hub, para musisi, seniman, serta pemilik merek lokal dapat berkonsultasi sekaligus memperoleh pendampingan pendaftaran merek maupun perlindungan karya intelektual.
“Ini menjadi kesempatan bagi para kreator untuk mulai memberikan perlindungan terhadap identitas merek dan hasil karya yang mereka miliki,” ujarnya.
Puluhan Penampil Meriahkan Dua Hari Festival
Sektor musik menjadi salah satu daya tarik utama JCF 2026. Lebih dari 30 penampil dijadwalkan mengisi Main Stage, dengan menghadirkan perpaduan musisi lokal Jembrana dan sejumlah nama populer dari kancah musik Bali.
Pada Sabtu (31/10/2026), panggung utama menampilkan Tika Pagraky, Birama, Bramasta, Kabyah & Gung Gen, serta kolaborasi duo ayah-anak asal Jembrana, Mr. Rayen dan Omang Verly.
Peradah Jembrana bersama Nawadewata Production turut menghadirkan pertunjukan khusus bernuansa budaya.
Malam pembukaan juga diisi sambutan Bupati dan Wakil Bupati Jembrana, pemberian penghargaan atau Awarding Night, serta penyerahan piagam kepada sejumlah komunitas. Penampilan band legendaris Bali, Navicula, menjadi penutup rangkaian hari pertama.
Memasuki Minggu (1/11/2026), panggung kembali diramaikan oleh musisi lokal, di antaranya Yeh Kuning dan Made Gimbal yang dijadwalkan tampil pukul 17.25 WITA. Selanjutnya hadir Deleo, Afterteen, serta Jangar, grup heavy rock peraih AMI Awards.
Kolaborasi musik Bali rock dan koplo antara Lolot X Bagus Wirata juga menjadi salah satu sajian yang dinantikan. Keduanya dijadwalkan tampil pukul 20.45 hingga 21.45 WITA. Rangkaian festival kemudian ditutup oleh Pemoeda Soeka Karokoe.
Ruang Belajar, Seni, dan Pertunjukan Komunitas
Selain panggung musik, JCF menyediakan Community Stage sebagai ruang diskusi, edukasi, dan pertukaran pengalaman.
Sejumlah agenda yang dihadirkan antara lain talkshow Music Publicity bersama Rudolf Dethu dan Dani Supriatna. Ada pula Negaroa Speaks, sebuah sesi perbincangan bersama UD Sri Rejeki yang menghadirkan kreator konten lokal Jebret dan Kak Aul bersama Bupati Jembrana.
Unsur tradisi dan seni rupa juga mendapat perhatian melalui program Reimagining Tradition: Nyikut Rupa. Dalam sesi ini, pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan sketsa ogoh-ogoh secara langsung bersama Sunaren dan peserta STT, mulai dari goresan awal hingga terbentuk rancangan visual.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba pengalaman baru, tersedia Workshop Cyanotype bersama Gung Ama serta Drum Clinic bersama Hendra Lolot dan JDC. Hiburan semakin beragam dengan penampilan stand-up comedy dari StandupIndo Jembrana.
Pasar Kreatif hingga Hiburan Malam
JCF 2026 turut menghadirkan Creative Market & Hub yang menjadi tempat berkumpulnya pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan berbagai produk, mulai dari fesyen, kerajinan tangan, karya seni, hingga merek kreatif.
Di kawasan yang sama, pengunjung dapat mengakses layanan HKI/IP Corner dari Disparbud dan BRIDA Jembrana.
Sementara itu, Taste of Jembrana menghadirkan aneka pilihan makanan dan minuman dari pelaku kuliner setempat. West Club Creative Syndicate juga menyediakan aktivitas kreatif berupa mewarnai gratis dan digital art.
Untuk pengunjung dewasa, tersedia Red Zone 18+ yang menyuguhkan The Art of Mixology bersama Komunitas Bartender Jembrana dengan eksplorasi minuman berbahan arak Bali. Program lainnya meliputi Live Cooking Taman Teduh X Kabyah serta penampilan DJ Arpani dan DJ Erick Foe setiap malam.
Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Jembrana
Penyelenggaraan JCF 2026 tidak hanya diarahkan sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.
Melalui keterlibatan berbagai komunitas dan pelaku usaha, festival ini diharapkan mampu memperkenalkan potensi Jembrana yang tersebar dalam 21 subsektor ekonomi kreatif, mulai dari musik, kuliner, kriya, fesyen, hingga konten digital.
Selain memberikan ruang promosi bagi talenta lokal, kegiatan ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi, memperluas jaringan pemasaran, serta mendorong lahirnya karya dan usaha kreatif baru.
Sapta Negara berharap JCF dapat terus berkembang menjadi agenda tahunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif di Jembrana.
“Perubahan dan masa depan bisa berawal dari hal sederhana, seperti ruang untuk bertemu, bertukar gagasan, dan keberanian mencoba sesuatu yang baru. Semangat itulah yang ingin kami bangun bersama melalui JCF,” tutup Sapta Negara. (!)






